Selamat Datang

Selamat datang di web Sekitar talun, disini tersedia cerita menarik tentang kehidupan disekitar kita.

Pengunjung

Followers

Iklan anda

Keindahan Desa Kawatisore

Written By Unknown on 9/20/2012 | 8:07 PM



Kwatisore, desa yang berada di dalam Taman Nasional Teluk Cendrawasih, Nabire, Papua. Letaknya tidak jauh dari Kali Lemon, hanya setengah jam menggunakan speedboat. Dermaga kayu kokoh sebagai pintu masuk Kwatisore, terdapat Koramil dan Polsek yang tertata rapi dan sedap dilihat. Jalanan Kwatisore bersih dan tidak ada kendaraan bermotor, sore itu jalanan sangat ramai dengan anak-anak yang bermain bahkan di pantai mereka sedang mandi dengan tawa gembira mereka.

Rumah-rumah kayu tertata rapi walau di sana tidak ada listrik karena generator listrik yang rusak tapi di tengah-tengah desa terdapat bangunan yang digunakan untuk menonton televisi oleh warga dan yang paling “ wah “ adalah televisi mereka adalah televisi plasma 32”. Di tempat itu juga mereka bertegur sapa jika sudah malam. Kwatisore memiliki Sekolah Dasar dan Puskesmas juga. Walau jauh dari Nabire, warga dapat bersekolah dan memeriksa kesehatan pada mantri desa karena dokter hanya datang pada hari tertentu.

Masyarakat Kwatisore sebagian besar merupakan nelayan tradisional, mereka menggunakan kole-kole (longboat kayu) untuk menangkap ikan. Selain itu di Kwatisore terdapat para transmigran dari Jawa sejak tahun 70an. Ada istilah menggelikan di sini seperti mujair ( muka jawa asli irian ) dan memang di sana beberapa warga memiliki nama jawa ( Yanto, Agus, dll ). Tak jauh dari desa, sebuah perusahaan kayu yang sekarang tidak lagi beroperasi dan terdapat perahu tongkang pengangkut kayu.

Beberapa warga di Kwatisore memelihara rusa dan buaya muara, cukup menegangkan ketika kami mencoba memotret buaya muara yang sudah cukup besar. Selain itu di halaman rumah warga banyak ditemukan anggrek-anggrek yang sangat cantik, yang mereka ambil dari hutan. Di belantara Papua masih banyak sekali endemik anggrek-anggrek yang tidak pernah kita temui justru ditanam oleh warga.

Kalau kita ingin pergi ke Kwatisore haruslah saat pagi, karena jika siang hari gelombang perairan Teluk Cendrawasih cukup tinggi. Dan kalau sore seringkali hujan walau pada musim kemarau sekali pun, dari situlah nama Kwatisore muncul. Dari kata “Khawatir Sore“ selalu hujan.

Ketika kami akan kembali menuju Kali Lemon, banyak warga di dermaga, mereka memancing ikan yang memang sangat banyak sekali berada di pinggir dermaga. Matahari semakin terbenam, saatnya kami meninggalkan Kwatisore yang ramah. Sampai jumpa kembali, memori kebaikan warga Kwatisore akan kami simpan dan kenang.

Sumber
8:07 PM | 0 comments | Read More

Molo; Tradisi Pencarian Ikan di Papua



Apakah itu Molo? Molo sendiri adalah bahasa Papua yang artinya menyelam, mereka menggunakan tombak untuk menangkap ikan dan biasanya dilakukan pada malam hari. Malam itu setelah puas berenang bersama hiu paus, kami diajak oleh Mas Bengong dan Om Bram untuk mencari ikan bersama-sama dengan Om Zakheus.

Setelah cukup jauh meninggalkan Kali Lemon, kami mencari spot untuk molo malam itu. Dalam perjalanan menuju spot molo, bagan-bagan nampaknya sibuk mengangkat ikan yang menurut Om Bram sedang panen besar. Sebab ketika kami menyinari air laut banyak sekali plankton-plankton yang tak lain merupakan makanan para ikan. 

Sampai sudah di tempat kami akan molo, Om Zakheus sudah cukup modern untuk molo karena sudah menggunakan snorkel, wet suit dan fin. Bersenjatakan tombak dan senter underwater, Om Zakheus memasuki lautan dangkal malam itu. Dari cahaya senter masih kelihatan sampai hilang, itulah yang kami lihat malam itu.

Benar-benar cepat sekali, Om Zakheus sampai kami sebut manusia ikan karena bisa menangkap ikan menggunakan tangan. Malam itu tangkapan besar kami dapatkan, yaitu lobster. Lobster yang Om Zakheus tangkap sangatlah besar dan selain itu Om Zakheus juga menangkap banyak sekali ikan. Om Bram sempat berseloroh, kalau Om Zakheus memakai Scuba hampir pasti seluruh isi laut habis ditangkap. Untuk molo memang dibutuhkan fisik yang kuat dan juga harus tahan tidak bernafas cukup lama.

Cukup banyak tangkapan malam itu, kami kembali menuju Kali Lemon saat sudah cukup dekat ternyata ada ikan lagi. Om Zakheus dan Om Bram mulai turun ke laut untuk molo dan ternyata mendapatkan tangkapan seekor hiu karang. Hanya sebesar ikan lele, namun tubuhnya lebih panjang dan sangat kuat.

Sungguh malam itu merupakan malam keberuntungan bagi kami, karena sebelumnya kami juga pergi molo namun tidak beruntung. Mengakhiri malam dengan panen ikan membuat kami bersemangat menunggu pagi hari karena kami akan menyantap lobster yang lezat.

Sumber
12:44 AM | 0 comments | Read More

Kesehajaan Masyarakat Mai Mai



Sore itu ketika kami mulai meninggalkan Kaimana menuju Mai-mai. Setibanya di Mai-Mai, kami minta ijin kepada pemuka desa dan kami bermalam di tempat Luis. Bukan tempat yang istimewa namun cukup untuk menampung kami bermalam bersama Herman, Enos dan Joni.

Bang Donny sudah menyiapkan kopi panas untuk bakudapa dengan penduduk Mai-Mai yang ramah. Malam itu, Bapak Salmon salah satu penatua Desa Mai-Mai berkunjung ke tempat kami menginap. Beliau bercerita tentang sejarah Desa Mai-mai yang berarti kecil karena letaknya yang berada diantara tebing yang mengitarinya serta Teluk Erena di depannya.

Desa Mai-mai memiliki jalanan yang dibuat dari beton, gereja, puskesmas pembantu, dan sekolah dasar. Listrik mulai menyala setiap menjelang malam menggunakan generator desa hingga pukul 11.00 - 12.00 malam. Setelah itu listrik akan mati gelap gulita dan kita bisa menikmati sungai langit di luar.

Situs purbakala yang ada di Mai-mai berada di tebing-tebing yang tidak jauh dari desa. Ketika kami datang dan melapor pada Bapak Sekretaris Desa haruslah kita mengantongi ijin dari Distrik. Namun kami tidak memilikinya karena kurangnya informasi yang kami dapat di Kaimana. Tulisan dan gambar purbakala di Mai-Mai sangat sakral bagi warga. Oleh sebab itu jika ingin mengunjunginya haruslah dengan hati yang bersih.

Tak jauh dari Mai-Mai, di Teluk Erena menurut Bapak Salmon pernah melihat hiu paus di bagan yang tak jauh dari desa. Ada sekitar empat ekor yang pernah Bapak Salmon lihat dan itu sama seperti di Nabire. Bapak Salmon walau tidak pernah merasakan bangku sekolah, beliau memiliki pemikiran maju dan modern. Walau hanya sebagai petani rumput laut dan ikan kerapu, tidak membuat beliau untuk berhenti belajar. Itulah pelajaran yang kami dapatkan malam itu di Mai-Mai.

Paginya kami bersiap-siap untuk meninggalkan Mai-Mai dan melanjutkan perjalanan kami menuju Lobo, Teluk Triton. Di tebing-tebing sekitar Mai-Mai banyak sekali Yakob atau burung kakak tua tak berjambul yang terbang dan sesekali muncul burung gagak. Indah sekali Desa Mai-Mai dan pelajaran semalam menjadi cambuk bagi kami untuk mencintai Indonesia.

Sumber
12:42 AM | 0 comments | Read More

Keindahan Triton dan Irish

Written By Unknown on 9/19/2012 | 8:56 PM



Pagi itu kami meninggalkan Mai-Mai menuju Lobo, cuaca yang cerah menyambut kami. Kami menyempatkan mampir menuju situs purbakala lainnya yang berada tidak jauh dari Mai-Mai. Kami menyusuri teluk dengan air yang sangat tenang, dan di sepanjang perjalanan banyak sekali ikan puri serta ikan-ikan lainnya. Terumbu-terumbu karang terlihat tumbuh di perairan dangkal.

Tiba sudah kami di situs purbakala tersebut, ternyata lukisannya berada di dinding batuan yang banyak sekali menggambarkan hewan-hewan yang hidup disekitarnya serta disitu juga digambarkan si hiu paus. Tidak bagaimana caranya mereka menaiki tebing-tebing curam tersebut dan melukisnya dengan sangat baik. Di sepanjang perjalanan terdapat pulau-pulau kecil dan perairan dangkal yang banyak menyimpan keanekaragaman yang belum tergali dengan maksimal. 

Ketika kami di Namatota, berhentilah kapal di sebuat batuan karst yang terbentuk dari kerang-kerang kecil. Wooooaaaaahh, banyak sekali terumbu karang yang sangat indah dan ikan-ikan warna-warni yang menakjubkan. Saya dan Bang Donny menyempatkan untuk berenang di sekitarnya, dan sangatlah tenang sekali perairannya.

Setelah puas bermain snorkeling, saya naik ke atas karang dan sial bagi saya karena kaki tangan saya robek. Lumayan banyak juga darah yang mengucur, bagi saya cukup untuk menjadi kenangan di Namatota. Di sekitar karang tersebut banyak sekali ular laut, saya sendiri sempat dikejar 2 ekor saat bersnorkeling disana.

Hari semakin siang, kami harus cepat-cepat mencapai Lobo sebelum sore hari. Kole-kole melaju dengan cepat menyusuri teluk Namatota, dan ketika sampai di persimpangan suatu tanjung yang gelombangnya sangat keras. Cukup menegangkan perjalanan menuju Lobo, harus melewati celah kecil mirip sekali seperti petualangan Indiana Jones.

Ternyata kira sudah memasuki daerah Teluk Triton, celah tadi merupakan pintu gerbang. Sebuah kapal phinisi putih terlihat dari kejauhan, ternyata rombongan orang asing sedang berlibur. Menurut salah satu guide kami, Enos : Kapal itu datangnya dari Raja Ampat atau Lombok atau Bali yang langsung menuju Teluk Triton.

Setelah melewati celah lagi, sampai sudah kami di desa Lobo. Walau cuaca mulai berubah dan awan semakin hitam, gerimis datang serta gelombang semakin keras. Dari kejauhan nampak pegunungan yang berjejer rapi, tinggi menjulang tertutup awan. Teluk Triton yang sangat menjorok ke dalam seperti danau, tibalah kami di Lobo.

Desa Lobo sangat bersih, ketika kami menuju rumah bapak kepala desa. Terlihat warga bergotong royong memotong kayu, tak jauh situ terdapat Puskesmas Inap 24 jam dan terdapat dokter jaga. Di tempat bapak kepala desa, kami minta ijin untuk tinggal di Lobo. Ternyata Desa Lobo memiliki penginapan untuk umum, namanya penginapan Garuda. Waktu itu ada seorang turis dari Amerika yang sudah lama menetap di Indonesia sedang berlibur di Triton juga. Hari itu sebenarnya dia ingin kembali menuju Kaimana, namun cuaca tiba-tiba datang dengan tidak bersahabat.

Selesai memasukan barang bawaan, kami makan dan istirahat sejenak karena perjalanan yang menegangkan bagi kami. Datangnya malam membuat kami terbangun, dan listrik tidak nyala. Usut punya usut, ternyata petugasnya sedang pergi ke kota jadi malam itu kami harus menghidupkan generator.

Setelah listrik menyala, bersama dengan Om Samuel yang merupakan penatua Desa Lobo, bercerita tentang sejarah Lobo yang satu suku dengan warga Mai-Mai yaitu suku Maerasih. Dulunya di Lobo terdapat burung garuda, yang selama ini kita kenal sebagai burung mitos ternyata menurut warga Lobo itu merupakan burung yang nyata. Lobo dulunya merupakan benteng Belanda, karena pertama kalinya Belanda ke Papua memasuki Lobo.

Terdapat monumen Belanda di Lobo, namanya Fort du Bus dengan tanggal 24 Agustus 1928 untuk menandai pertama kalinya Belanda mendarat di Papua.Nama itu diambil dari gubernur jenderal Belanda saat itu L.P.J Burggraaf du Bus de Gisignies. Benteng itu ditinggalkan Belanda karena serangan wabah Malaria, lalu mereka berpindah menuju Manokwari.

Teluk Triton dan Selat Irish menurut cerita warga Lobo, dulunya berasal dari Kapal Laut Triton dan Irish yang mereka sendiri tidak tahu dari negara mana. Jadi kapal tersebut berlabuh di teluk yang kini dikenal dengan nama Teluk Triton sedangkan kapal yang lainnya berlabuh di selat yang kini juga dikenal dengan Selat Irish. Bagi kami memang nama teluk dan selat tersebut sangat asing karena namanya cenderung ke barat-baratan. Mungkin karena dulu daerah tersebut merupakan pusat pemerintahan awal Belanda di Papua.

Teluk Triton sendiri memiliki banyak sekali binatang endemiknya, menurut data terdapat 16 spesies endemik yang hanya ada di sana. Sekarang daerah di Teluk Triton menjadi kawasan konservasi oleh Pemda Kaimana bersama-sama dengan CI ( Consevation International ) dimana tidak boleh ada tindakan menangkap ikan di beberapa daerah kantong ikan.

Selain itu Triton terdapat berbagai spesies ikan hiu, menurut cerita Om Samuel. Hiu-hiu di Triton sangat bermacam-macam, mulai dari hiu paus, hiu gergaji, hiu macan, hiu martil, dll. Di tempat kami menginap terdapat gigi hiu gergaji hasil buruan yang masih disimpan. Dari besar gigi gergajinya tersebut dapat dipastikan kalau hiu gergaji tersebut sangat besar. Ada juga buaya muara yang masih banyak berkeliaran di teluk. Kawasan di Teluk Triton terdapat 959 jenis ikan karang dan 471 jenis karang di mana 16 dari mereka adalah spesies baru.

Keindahan karang lunak adalah pemandanganan air alami di Teluk Triton. Serta dengan mudah menemukan bryde’s paus mencari makanan. Walau saat itu kami sendiri kurang beruntung karena sama sekali tidak menemukan ikan-ikan tersebut Jika ingin melakukan kegiatan di Triton mungkin agak sulit jika kita tidak membawa peralatan karena memang di sana sama sekali belum terdapat fasilitas yang mendukung. Jika ingin diving atau snorkeling, haruslah kita persiapkan sendiri sebab belum ada operator diving. Padahal Triton sendiri sangatlah menarik kehidupan bawah lautnya, nampaknya perhatian untuk sektor pariwisata kurang diperhatikan di sana.

Di sekitaran Teluk Triton terdapat pulau-pulau kecil yang bisa digunakan untuk berkemah dan berjemur karena setiap pulau memiliki pantai-pantai. Jika ingin climbing, kita bisa melakukannya di Triton sebab tebingnya menurut Bang Donny sangat menantang.

Triton, seperti belum tertata untuk pariwisata dan sangat minim informasi untuk ke sana. Di sana tersimpan keindahan yang membuat kami terkesima. Jangan lupa mampir ke Selat Irish, di sana terdapat pulau-pulau kecil dengan pantai yang sangat indah.

Sumber
8:56 PM | 0 comments | Read More

263 Tahun Masjid Palembang Mengukir Sejarah



Setelah menempuh perjalanan darat kurang lebih 10 jam dari Bengkulu, akhirnya Tim Sumatera 3 tiba juga di Palembang. Menghabiskan malam di jalanan, kami sampai di Bumi Sriwijiaya pada pagi hari.

Perhentian pertama kami adalah Masjid Agung Palembang. Masjid yang terletak tak jauh dari Jembatan Ampera ini kami jadikan start point untuk mengamati hiruk-pikuk Kota Palembang. Saya pikir kondisinya seperti Bandar Lampung atau Bengkulu, yang jalan-jalan kotanya tidak begitu besar dan terkesan 'kecil' bagi saya jika pembandingnya Jakarta dan Surabaya.

Tapi, kesan pertama saya tentang Palembang adalah kota ini metropolitan juga. Bahkan, Palembang dicanangkan untuk menjadi International City. Saya pun baru tahu kalau Palembang memang kota kedua terbesar di Sumatera setelah Medan. Tidak perlu dikerutkeningkan.

Saya masuk ke dalam areal masjid terbesar di Palembang ini. Mengagumi menaranya yang menjulang dengan ketinggian 30 meter dan berdiameter 3 meter. Menara yang pertama kali dibangun pada 1753 ini berada di bagian kiri masjid arah selatan (Jalan Merdeka).

Ujung menaranya berbentuk melengkung, mirip ujung menara sebuah klenteng. Pengaruh arsitektur Cina ini juga tampak pada puncak Masjid Agung yang berupa atap mustaka. Rupa mustaka yang menjurai, melengkung ke empat ujungnya ini, akan mengingatkan siapa pun pada bangunan khas China. Menara kedua yang berbentuk persegi dibangun pada 2 Januari 1970 dengan ketinggian 45 meter. Biaya pembuatannya ditanggung oleh Pertamina dan diresmikan pada 1 Februari 1971.

Setelah membasuh muka dengan air keran yang menyegarkan, saya keluar dari gerbang masjid yang arsitekturnya dibumbui oleh gaya Eropa. Pintu masuknya besar dan tinggi dengan warna cat kuning telur. Gerbang utama yang saat itu tergembok diapit oleh dua gerbang di sisi kanan dan kiri yang berukuran lebih kecil. Pagi itu, saya jumpai hanya gerbang di sebelah kanan yang dibuka.

Masjid yang telah berusia 263 tahun ini aslinya bernama Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin I atau Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo ini. Tak lain karena dialah yang mendirikan masjid yang konon terbesar di Nusantara saat itu. Pembangunannya berlangsung kurang lebih 10 tahun, yakni sejak 1 Jumadil Akhir 1151 H (1738 M) hingga 28 Jumadil Awal 1161 H (1748 M).

Bangunan utama Masjid Agung tetap dipertahankan keasliannya hingga kini. Sebagaimana masjid dan bangunan kuno bersejarah lainnya, perbaikan demi perbaikan pun dilakukan. Sejak tahun 2000 masjid ini direnovasi dan selesai pada 16 Juni 2003 yang diresmikan oleh Presiden Megawati Soekarno Putri.

Masjid yang berlokasi di pusat Kota Palembang, tepatnya di Kelurahan 19 Ilir, Kecamatan Ilir Barat I, ini  tak jauh dari Benteng Kuto Besak,  Museum Sultan Mahmud Badaruddin II, Monumen Ampera, dan Jembatan Ampera. Cukup dengan berjalan kaki, Anda bisa mendatangi semua tetenger Palembang ini.

Jika lelah melanda, mampirlah di kedai-kedai makanan yang tersebar di sekitar masjid. Beragam kuliner khas Palembang akan mudah Anda temui.

Sumber
8:47 PM | 0 comments | Read More